Disiplin sebagai Kunci Masa Depan, Kepala SMAN 1 Gunung Meriah Tegaskan Penggunaan Gawai

Sejalan dengan arahan Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Aceh, penggunaan HP di ruang kelas, baik oleh guru maupun murid, hanya diperbolehkan untuk kepentingan proses belajar-mengajar.

Peserta UOB SMA Negeri 1 Gunung Meriah

Gunung Meriah — Upacara Bendera (UPB) yang dilaksanakan pada Senin, 9 Februari 2026, di SMA Negeri 1 Gunung Meriah berlangsung tertib dan khidmat dengan diikuti lebih dari 800 murid, guru, dan tenaga kependidikan. Bertindak sebagai pembina upacara, Kepala SMA Negeri 1 Gunung Meriah, Mami Hastuti, S.Pd., M.Pd., menyampaikan amanat yang sarat makna, menekankan pentingnya kedisiplinan dan tanggung jawab sebagai fondasi keberhasilan masa depan murid.

Mengawali amanatnya, Mami Hastuti mengajak seluruh peserta upacara untuk mensyukuri nikmat Allah SWT serta memperbanyak shalawat kepada Nabi Muhammad SAW sebagai bentuk harapan akan syafaat dan keberkahan dalam kehidupan. Ia juga menanamkan nilai keikhlasan dalam setiap perbuatan, seraya berharap agar seluruh warga sekolah mampu melakukan kebaikan semata-mata karena Allah SWT.

Dalam amanatnya, Kepala Sekolah menegaskan bahwa disiplin merupakan pondasi utama dalam meraih cita-cita. Disiplin, menurutnya, bukan sekadar aturan, tetapi sikap hidup yang harus diwujudkan dalam perilaku sehari-hari. Ia menguraikan bentuk-bentuk kedisiplinan yang perlu ditegakkan, mulai dari disiplin hadir ke sekolah, disiplin berbaris saat upacara, kesiapan petugas upacara sejak awal, hingga kebiasaan menunggu guru di kelas lima menit sebelum pembelajaran dimulai. Tidak luput pula ia menyinggung disiplin menjaga kebersihan lingkungan sekolah dengan tidak membuang sampah sembarangan.

Selain persoalan disiplin, Mami Hastuti juga menyoroti masih adanya murid yang menggunakan telepon genggam (HP) tidak sesuai peruntukannya. Ia menegaskan bahwa hal tersebut bertentangan dengan tata tertib sekolah. Sejalan dengan arahan Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Aceh, penggunaan HP di ruang kelas, baik oleh guru maupun murid, hanya diperbolehkan untuk kepentingan proses belajar-mengajar. Apabila HP digunakan dalam pembelajaran, maka harus seizin pihak kurikulum dan setelah pembelajaran selesai, perangkat tersebut kembali dititipkan kepada wali kelas.

Menutup amanatnya, Mami Hastuti mengajak seluruh peserta upacara untuk terus berbenah dan menjadi pribadi yang lebih baik dari hari ke hari. Ia menegaskan bahwa perubahan tidak cukup hanya dengan harapan, tetapi harus diwujudkan melalui tindakan nyata dan konsisten.

“Semoga arahan tentang kedisiplinan dan penggunaan HP ini dapat dilaksanakan. Bukan hanya sekadar mudah-mudahan, tetapi benar-benar dilakukan,” tegasnya.

Upacara bendera kali ini dilaksanakan oleh petugas dari kelas XI F8. Dengan kesiapan dan kekompakan petugas, kegiatan UPB berlangsung lancar, tertib, dan penuh khidmat, mencerminkan semangat disiplin yang menjadi pesan utama pada upacara hari itu.

Gerakan Bangga dan Cinta Mengggunakan Produk Aceh
LINK TERKAIT